Jumat, 24 Juli 2009

telah tiba musim kedasi hinggap di pohon kapuk, saatnya perpisahan. namun maafkan aku yang tak bisa "setabah hujan bulan juni, yang mampu merahasiakan rintik rindunya pada pohon berbunga itu"

Selamat ulangtahun
pasantek daye, 21 Juli 2009

Jumat, 17 Oktober 2008

kemana mimpi menghilang?

Aku masih tak percaya ketika sang gelap menjemput dan mengajakku tertidur. Berapa kali telah kucoba untuk sadar, tapi tetap aku tak bisa merasakan diri tertidur dibelai mimpi. Kemana kesadaran itu bersembunyi?

Mungkin selamanya takkan kutemukan jawabnya. Bagaimana mungkin roh pergi tanpa nafas. Apakah didalam mimpi aku tak bernafas?

in memorian of Bunga Kaktus, 29 April 2008

catatan akhir tahun

Apa yang terjadi, apa yang akan terjadi atau apa yang telah terjadi, tak pernah membuatku resah. Entahlah… mungkin aku yang tak punya rasa atau rasa itu masih menggantung disana. Mungkin juga aku telah bosan dengan hidup. Mungkin juga bosan dengan segala tuntutan yang menyeret tubuhku yang letih. Namun aku masih juga harus menjalani hidup ini sampai batas waktunya.

Sebentar lagi tahun genap berganti. Almanak masih setia berputar. Apa yang terjadi di tahun ini tak membuatku lebih baik. Tak ada sesuatu yang membuat senyum. Untukku, apalagi untuk orang lain. Yang ada hanya letih dan perih selalu sepanjang waktu. Rintihan melawan sakit yang kian merebak dintara tumpukan-tumpukan daging busuk ini.

Aku bosan mengeluh, aku benci tubuh ini. Aku tuli nasihat, aku tak mampu lagi melihat keindahan. Yang kupercaya, aku telah mati dalam hidup. Sampai benar-benar habis menjalani waktuku. Karena sekali terluka maka akan berbekas seumur-umur.

in memorian of Bunga Kaktus, 29 April 2008

matahari

Matamu tak pernah tidur

Tak pernah bermimpi, tak punya impian

Engkau juga dungu, tak punya rasa

Kejam merejam semua yang tampak


Tak jera engkau mengintip

Sepanjang masa mamandang segala arah

Aku malu melihatmu tersenyum

Engkau telan tubuhku bulat-bulat, tanpa perlindungan


Matahari, aku tak sepertimu

Tak seadil-adilnya cahayamu, juga tak setegar tempatmu menggantung

Meski awan membentangi, walau hujan merebut cahayamu

Karna aku manusia


Siapapun tak luput dari terangmu

Matamu menembus celah-celah sempit

Pantul memantul mengejar persembunyian

Membakar namun hangat menggugah kebekuan


Lama aku membatu

Mencoba menutup diri, tenggelam dalam gelap

Berpura-pura mati meredam kesunyian


Tetapi musim membawaku kepadamu

Membuka kebisuan, membayangi tubuhku

Hingga luluh rata tanpa elak


Karna aku manusia

Kau ada melayaniku untuk umurku

Matahari

Lentera mata dan jiwaku


in memorian of Bunga Kaktus, 29 April 2008

Tanpa Warna

Kepada-Mu. Hari ini kudengar alunan puisi. Sejuta makna seribu tafsir.Hening merasuk jiwa.


Kepada-Mu. Aku berdosa membuat-Mu ada. Membawa-Mu padaku seperti diriku.Tapi kau mau.


Kepada-Mu. Kuikat dengan kasih sayang. Kusemayamkan jauh di relung. Tapi kau mau.


Kepada-Mu. Untukku menyebut cinta-Mu. Aku percaya, aku yakin. Juga kusangsikan dan kuragukan.


Kepada-Mu yang tak punya nama. Karena kau terlalu mulia untuk kuberi nama. Aku kotor telah memanggil-Mu. Biarlah kau kujadikan kekasih, meski kau bukan kasih itu.


in memorian of Bunga Kaktus, 29 April 2008

Potret

Menatap wajahmu dalam potret
Mata juling berpintal senyum manis, indah elok satu-satunya terpajang di dinding

Memaknai senyummu yang hampa
Dinding terlalu dingin untuk diajak bersahabat, kesunyian menyelimuti malammu

Menatap kau tersenyum simpul
Bersandar di dinding beku, mati lapuk bersama zaman

Musim berlalu tanpa sapa
Wujudmu berpendar semakin asing, bahkan menua tanpa usia

Karena engkau sebuah potret
Potret masa mudaku yang telah hilang, tapi setia merayu dengan sendu

in memorian of Bunga Kaktus, 29 April 2008

Selasa, 13 Mei 2008

Bunga kaktus
Mekarlah kau kini diantara seribu gurun kematian
Sunya tertangkup di helai-helai berwangi
Kembali telanjang tanpa pesan dan bekal

Bunga kaktus
Kau telah kembali pada senyawa terurai zat
Senyum tersungging di balik potret tua tak berusia
Kita akan berjumpa di persimpangan yang lebih teduh